In Marketing Sportivo, Pemasaran Olahraga, Sponsorizzazioni Sportive, Sponsorship Olahraga

Ketika pandemi dimulai pada bulan Maret dan negara-negara terpaksa memberlakukan karantina wilayah, kita semua harus berhenti. Awalnya kami berpikir, atau lebih tepatnya kami ingin mengelabui diri sendiri, bahwa olahraga dapat berjalan dengan lancar, barangkali di arena tertutup, tanpa penonton… kemudian kami menyadari mustahil melakukannya dengan aman dan karenanya industri olahraga pun berhenti. Pertama kalinya dalam sejarah. Nyatanya, sulit dipercaya bahwa olahraga dengan kontak fisik, utamanya, bisa aman dimainkan; sepak bola, bola basket, atau rugbi, adalah olahraga yang pemainnya saling bersentuhan secara terus-menerus dan mereka berlari, berkeringat, terengah-engah; hampir mustahil untuk menjaga jarak, itu bukanlah sifat dari cabang olahraga ini.

Namun, dalam olahraga lain, perjalanan internasional menjadi kendala utama; bagaimana Anda bisa berkompetisi di Amerika atau Asia saat sebagian besar tim berbasis di Eropa? Bepergian tak lagi aman dan negara-negara mulai menutup perbatasannya serta memberlakukan aturan karantina; jadi perjalanan juga harus dihentikan.

Faktanya, selama karantina wilayah, organisasi olahraga harus memikirkan ulang dan meninjau semua perlengkapan dan jadwal serta mencari solusi baru agar bisa kembali berlaga. Setiap aspek harus diperiksa dan direvisi: kalender baru, prosedur dan batasan keselamatan baru, peraturan yang diterapkan, sistem pengetesan untuk semua pemain dan staf, sifatnya wajib dipatuhi.

Mereka telah mengupayakan segalanya demi menciptakan lingkungan yang terjamin dan aman, segalanya yang memungkinkan berlanjutnya permainan, bahkan tanpa penonton, tetapi setidaknya kembali lewat siaran langsung. MotoGP kembali berlanjut dengan kalender yang banyak diubah, tenis sudah berhasil memainkan dua pertandingan Grand Slam, sepak bola sudah dimulai kembali secara tertutup, hanya atlet elit yang berlari di London Marathon, semua peserta lainnya berlari sendiri-sendiri. Perlahan dan dengan beberapa kendala yang harus diatasi, kita sudah bisa memulai lagi. Tetapi apa yang menanti kita di bulan-bulan mendatang? Sangat jelas bahwa perusahaan yang berinvestasi dalam olahraga akan mengajukan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri.

Di masa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, seluruh hiburan langsung (seperti bioskop, teater, konser, pertunjukan) secara praktis ditutup. Pembatasan di setiap negara kian ketat dan kita akan segera melihat diri kita di rumah, di depan layar, di atas sofa, lebih sering dibanding sebelumnya; Oleh karenanya, olahraga langsung akan menjadi salah satu dari segelintir hiburan langsung yang tersedia dan orang-orang akan berterima kasih serta menghargainya.
Perusahaan pastinya akan terus berkomunikasi lewat olahraga, relevansi sosialnya saat ini cukup nyata, tetapi mereka harus memilih cabang olahraga yang tepat, bahkan lebih cermat dari sebelumnya.

Perusahaan sebaiknya berinvestasi dalam olahraga apa?

Secara umum, saat Anda akan memilih olahraga atau tim untuk berinvestasi, Anda harus mempertimbangkan sejumlah faktor. Yang utama adalah yang terkait dengan nilai-nilai cabang olahraga yang ingin Anda sponsori; nilai-nilai itu harus selaras dengan merek atau identitas produk. Kemudian Anda harus menilai popularitas cabang olahraga tersebut, target yang dirujuknya, penonton serta penyebaran teritorialnya, dan seterusnya. Akan tetapi, mulai sekarang dan seterusnya, perlu juga mempertimbangkan elemen lain yang tidak hanya termasuk dalam yang disebutkan sebelumnya, tetapi entah bagaimana membuat kalang-kabut semuanya: kemungkinan akan dibatalkan atau tidaknya acara/kejuaraan/turnamen olahraga karena tingkat infeksi.

Akankah olahraga langsung dimainkan tanpa gangguan?

Jelas tidak mungkin menjamin balapan, pertandingan, dan kejuaraan akan selalu dimainkan tanpa adanya gangguan, atau penangguhan atau perubahan kalender, tetapi benar pula bahwa ada beberapa cabang olahraga yang cenderung tidak terganggu dibanding yang lain. Semuanya adalah cabang olahraga yang sifat permainannya memang menjamin jarak sosial para atlet.

Olahraga dengan kontak fisik seperti rugbi, sepak bola, bola basket, balap sepeda beberapa waktu terakhir (lihat Giro d’Italia), dan olahraga bela diri umumnya membuat atlet terlibat interaksi fisik terus-menerus yang berpotensi meningkatkan penularan virus. Akan lebih sulit untuk melindungi kesehatan mereka yang secara aktif berpartisipasi dalam cabang olahraga ini daripada, misalnya, pemain tenis, dan pengemudi mobil, atau pengendara sepeda motor.

Asupan pikiran.

Sikap, perilaku, dan aktivitas harus beradaptasi dengan situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. Perusahaan yang berinvestasi dalam olahraga harus menanyakan pada diri sendiri jika dilihat-lihat memang tidak ada gunanya dan bergerak menuju sisi yang lebih aman, mungkin tanpa menyela apa yang sudah ada, tetapi dengan membekali diri dengan jaring pengaman yang bisa dimanfaatkan saat perlu.
Ini bukan pertama kalinya dua realitas dari cabang olahraga yang berbeda saling berdampingan di bawah payung sponsor yang sama. Coba lihat Pirelli, salah satu contoh, yang mensponsori sepak bola bersama Inter dan F1. Pirelli pastinya tidak akan kekurangan topik komunikasi atau visibilitas otomatis yang terkait dengan acara.
Dan jika sumber daya bukan milik Pirelli atau perusahaan besar lainnya dan Anda harus membuat pilihan, maka mungkin lebih aman untuk beralih ke olahraga yang memiliki “risiko” lebih rendah.
Di antara yang terpopuler tentu saja F1, FormulaE, MotoGP, Tenis, beberapa dari sekian banyak dan olahraga ini akan memungkinkan untuk terhubung dan terlibat dengan penonton internasional.
Di beberapa negara ada cabang olahraga lain yang begitu populer dan sangat efektif, termasuk berlayar di Belahan Bumi Selatan dan di Amerika Serikat atau segala yang berhubungan dengan kuda dan golf di Inggris dan sekali lagi di A.S. Ini jelas merupakan beberapa contoh singkat peluang dan seseorang pasti dapat menggali lebih dalam tergantung kebutuhan masing-masing perusahaan dan merek

Testimoni dan pendukung olahraga

Jika Anda akan mensponsori seorang atlet, Anda masih harus mempertimbangkannya dan pastikan mengetahui semua informasi tentang cara mengurangi risiko pandemi. Memang benar bahwa atlet pemenang adalah aset yang teramat penting dan strategis bagi perusahaan investor, benar pula ini semua tentang satu orang; jika atlet Anda sakit dan tidak dapat bertanding atau balapan, perusahaan tidak punya pilihan lain.

Risiko di sini pasti diimbangi dengan potensi ledakan komunikasi yang diwakili dengan adanya “selebriti” (saat mereka menang) yang memastikan visibilitas global merek Anda dan keuntungan komersial. Pikirkan Jordan, Tiger Woods, Valentino Rossi, Cristiano Ronaldo, itu hanya sebagian contohnya.
Aturan umum yang baik yang bisa dirujuk menurut pendapat kami adalah berikut ini: mensponsori satu atlet mewakili risiko yang lebih besar daripada mensponsori tim, sebuah tim mewakili risiko yang lebih besar dibanding mensponsori liga atau kejuaraan…. selanjutnya terserah perusahaan, dan kepada agen pemberi nasihat konsultasi, untuk memiliki semua informasi strategis (risiko, bahaya, peluang, dan manfaat) dan mengevaluasinya dengan cermat. Sponsorship tidak boleh menjadi pilihan karena insting, tetapi pilihan berorientasi data.

Pada akhirnya apa yang harus kita lakukan?

Singkatnya, ada banyak peluang yang bisa dilihat dan peluang itu akan memberi Anda kesempatan untuk mengurangi risiko bahwa pandemi akan mengganggu habis-habisan kegiatan komunikasi yang telah Anda rencanakan dan yang terkait dengan sponsor olahraga
Cobalah untuk mempertimbangkan kiat-kiat ini dan, sejauh mungkin, beberapa bulan ke depan mestinya tidak ada kejutan besar.
Jika Anda ingin lebih banyak contoh bagaimana roda dua dan empat dapat cocok dengan kebutuhan Anda, silakan hubungi RTR Sports Marketingdi info@rtrsports.com

Riccardo Tafà
Riccardo nasce a Gulianova, si laurea in legge all’Università di Bologna e decide di fare altro, dopo un passaggio all’ ISFORP (istituto formazione relazioni pubbliche) di Milano si sposta in Inghilterra. Inizia la sua carriera lavorativa a Londra nelle PR, prima da MSP Communication e poi da Counsel Limited. Successivamente, seguendo la sua insana passione per lo sport, si trasferisce da SDC di Jean Paul Libert ed inizia a lavorare nelle due e nelle 4 ruote, siamo al 1991/1992. Segue un breve passaggio a Monaco, dove affianca il titolare di Pro COM, agenzia di sports marketing fondata da Nelson Piquet. Rientra in Italia e inizia ad operare in prima persona come RTR, prima studio di consulenza e poi società di marketing sportivo. 
Nel lontanissimo 2001 RTR vince il premio ESCA per la realizzazione del miglior progetto di MKTG sportivo in Italia nell’anno 2000. RTR tra l’altro ottiene il maggior punteggio tra tutte le categorie e rappresenta L’Italia nel Contest Europeo Esca. Da quel momento, RTR non parteciperà più ad altri premi nazionali o internazionali. Nel corso degli anni si toglie alcune soddisfazioni e ingoia un sacco di rospi. Ma è ancora qua, scrive in maniera disincantata e semplice, con l’obiettivo di dare consigli pratici (non richiesti) e spunti di riflessione.
Recent Posts

Leave a Comment

Scrivici

Scrivici un messaggio, verrai contattato al più presto.