Keberanian sebagai Strategi, Bukan Sekadar Slogan
“Red Bull memberimu sayap.” Slogan iklan paling terkenal dari merek asal Austria itu bukan sekadar jargon: itu adalah ringkasan, hampir harfiah, dari cara Red Bull memutuskan ke mana uangnya mengalir. Pada 14 Oktober 2012, Felix Baumgartner menjatuhkan diri dari ketinggian 38.969 meter dan menjadi manusia pertama yang melampaui kecepatan suara tanpa mesin di sekelilingnya. Red Bull mendanai seluruh operasi itu — lima tahun persiapan, dengan anggaran yang tidak pernah diumumkan resmi namun diperkirakan antara 30 hingga 50 juta dolar — tanpa jaminan apa pun bahwa lompatan itu akan berhasil. Jika gagal, atau lebih buruk lagi, itu bisa menjadi bencana citra dalam skala besar. Kami sudah membahas detailnya, termasuk rekor durasi jatuh bebas yang sampai sekarang belum terpecahkan, dalam liputan khusus kami tentang Red Bull Stratos.
Risiko yang diperhitungkan itu bukan kejadian sekali saja. Itu adalah metodenya.
Model Red Bull: Memiliki, Bukan Sekadar Tampil
Kebanyakan merek yang berinvestasi di olahraga membeli visibilitas semata: logo di jersey, papan iklan di pinggir lintasan. Red Bull, dalam sebagian besar proyek terbesarnya, memilih jalan berbeda — memiliki aset itu sendiri, bukan menyewa sudut kecil darinya.
Di sepak bola, grup ini mengendalikan langsung RB Leipzig di Jerman, New York Red Bulls di Amerika Serikat, FC Red Bull Salzburg di Austria, serta di Brasil dua klub sekaligus, Red Bull Bragantino dan Red Bull Brasil — sebuah jaringan klub yang dirancang untuk mengalirkan talenta muda dari satu liga ke liga lain, dengan Leipzig sebagai tujuan akhir dari jalur pengembangan itu. Pada 2025, grup ini juga mengakuisisi saham minoritas di Leeds United, langkah pertama mereka masuk langsung ke sepak bola Inggris.
Di dunia balap, logikanya identik: Red Bull tidak mensponsori satu tim Formula 1, melainkan memiliki dua sekaligus. Oracle Red Bull Racing dan tim satunya, Racing Bulls, sama-sama berlomba di bawah kendali grup ini — yang pada praktiknya menghilangkan lapisan perantara khas sponsorship konvensional: pihak yang menentukan anggaran, strategi komersial, bahkan kalender aktivasi adalah perusahaan yang sama dengan yang memproduksi minumannya.
Akademi: Bertaruh pada Pembalap Sebelum Ia Terkenal
Selain memiliki tim secara langsung, Red Bull membangun program pencarian bakat dan pendanaan pembalap muda bernama Red Bull Junior Team, yang sudah berjalan lebih dari dua puluh tahun. Hasil dari investasi ini baru terlihat dalam hitungan dekade, bukan musim: dari program ini lahir Sebastian Vettel (empat gelar juara dunia bersama Red Bull Racing antara 2010 dan 2013, sebelum pensiun dari Formula 1 pada akhir 2022), Daniel Ricciardo, Max Verstappen — empat kali juara dunia antara 2021 dan 2024 — dan, yang paling baru, Isack Hadjar, yang dipromosikan mendampingi Verstappen untuk musim 2026.
Ini adalah prinsip yang sama dengan lompatan Baumgartner, hanya diterapkan pada manusia, bukan pada sebuah peristiwa: bertaruh pada potensi yang belum terbukti, sebelum pasar menyadari nilainya dan mendongkrak harganya.
Kepemimpinan yang Menyempit, Bukan Menghilang
Namun di sisi produk yang mendanai semua ini, gambarannya sudah berubah dibanding satu dekade lalu. Pada awal 2010-an, Red Bull menguasai pasar minuman berenergi dengan pangsa yang diperkirakan mencapai sekitar 70%. Hari ini situasinya berbeda: Red Bull tetap menjadi merek terdepan secara global, tetapi dengan pangsa pasar yang turun menjadi sekitar 43%, sementara Monster Energy tumbuh hingga sekitar 39% — bersama-sama, kedua merek ini menguasai lebih dari 80% pasar dunia. Red Bull tetap menjual lebih dari 12 miliar kaleng per tahun di hampir seluruh negara di dunia, tetapi persaingan kini nyata, bukan lagi sekadar teori.
Ini bukan detail yang perlu disembunyikan dalam studi kasus tentang sponsorship: justru ini kemungkinan besar alasan mengapa Red Bull terus berinvestasi begitu agresif di dunia olahraga. Merek yang memiliki tim yang diikuti para penggemar, atlet yang ingin ditiru anak-anak muda, dan ajang yang menjadi berita di seluruh dunia, tidak perlu bersaing hanya di rak supermarket.
Angka-angka di Balik Strategi
Pada 2024, Red Bull membukukan pendapatan sekitar 11,2 miliar euro, dengan menjual 12,7 miliar kaleng seperti disebutkan sebelumnya. Dari pendapatan itu, porsi yang sangat besar — anggaran pemasaran yang diperkirakan mencapai sekitar 3 miliar dolar — dialokasikan untuk sponsorship olahraga, tersebar ke lebih dari 600 atlet di seluruh dunia dan mencakup cabang olahraga mulai dari Formula 1 hingga olahraga ekstrem seperti cliff diving dan Flugtag, ajang di mana peserta amatir menerbangkan pesawat buatan sendiri dari sebuah platform di atas air.
Angka-angka ini tidak mungkin dijustifikasi oleh sponsor tradisional mana pun yang hanya membeli ruang iklan. Tapi Red Bull memang tidak sedang membeli ruang: mereka sedang membangun ekosistem olahraga yang mereka miliki sendiri, yang menghasilkan konten, dan yang digunakan untuk menjual kaleng jauh setelah acaranya usai. Bagi yang sedang mempertimbangkan sponsorship Formula 1, panduan sponsorship F1 kami menjelaskan model-model lain, yang jauh lebih ringan modalnya dibanding model Red Bull, dan yang secara realistis bisa dijangkau oleh sebuah merek.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang strategi sponsorship Red Bull
Mengapa sponsorship Red Bull sering disebut sebagai studi kasus?
Karena Red Bull memiliki secara langsung banyak asetnya — tim sepak bola, tim Formula 1, program pembalap muda — alih-alih hanya membeli visibilitas, sehingga menanggung sendiri risiko dan kendali penuh atas hasilnya.
Klub sepak bola apa saja yang dimiliki Red Bull?
RB Leipzig di Jerman, New York Red Bulls di Amerika Serikat, FC Red Bull Salzburg di Austria, Red Bull Bragantino dan Red Bull Brasil di Brasil, serta saham minoritas di Leeds United yang diakuisisi pada 2025.
Berapa besar pangsa pasar Red Bull di industri minuman berenergi saat ini?
Sekitar 43% secara global, turun dari sekitar 70% satu dekade lalu. Monster Energy kini berada di sekitar 39%. Red Bull tetap menjual lebih dari 12 miliar kaleng per tahun.
Berapa besar investasi Red Bull untuk sponsorship olahraga setiap tahun?
Anggaran pemasaran Red Bull diperkirakan sekitar 3 miliar dolar per tahun, dengan lebih dari 600 atlet yang disponsori di seluruh dunia.
Siapa saja pembalap yang lahir dari Red Bull Junior Team?
Sebastian Vettel (empat gelar juara dunia 2010-2013), Daniel Ricciardo, Max Verstappen (empat gelar juara dunia 2021-2024), dan Isack Hadjar (dipromosikan ke tim utama pada 2026).